Daily Experiences, Uncategorized

​Panggilan Misi (A Heart of Mission)

A reminder, an alert for those lost (crying) souls.
Minggu pagi yang tidak menyenangkan. Terlambat ibadah gereja karena salah turun di stasiun kereta, bayar ojek online double (deposit dan tunai, error system), dan beberapa pengalaman lainnya. Padahal semuanya hampir sempurna karena berangkat lebih awal dan di awal perjalanan kereta saya sempat lanjutkan Reading Bible Movement (RBM) dari Yosua 2.

Sepanjang sisa perjalanan ke gereja saya mencoba untuk tetap tenang dan memasang muka tebal di saat turun dari ojek G*ab. Khususnya setelah mengetahui bahwa saya telat 1 jam ke gereja dan membayar double untuk tarif ojek.

Anehnya ada anak youth yang datang terlambat juga sebagai teman masuk (bukan pembenaran). Saya sedikit terhibur karena di lift ia bercerita perihal bisnisnya yang sudah berjalan 3 bulan dan menghasilkan omzet stabil 3x lipat dari modal awal.

Selesai percakapan di lift, kami berdua masuk dan berpisah bangku duduk. Saya duduk di baris belakang bersama Frendy, seorang dengan kepribadian baik-lugu-sederhana. Di akhir kotbah, sang pendeta menyinggung Pak BTP yang sedang mengalami ujian hidup. Sempat tertawa kecil dalam hati, karena entah kenapa saya nekat pagi tadi, kangen untuk mengenakan kemeja kotak-kotak ‘ala Basuki-Djarot’. 

Momentum penting pertama datang saat si pengkotbah meminta jemaat saling mendoakan. Frendy membagikan beban doa perihal orangtuanya yang sakit. Jadilah Roh Kudus gerakkan saya membagikan kesaksian pribadi tentang perjuangan pemulihan dari kelumpuhan stroke dan mengingatkan dia cerita di Alkitab tentang iman 4 pengusung (pendamping) orang lumpuh yang membawa si sakit dari atap rumah untuk menerobos masuk agar teman mereka dijamah TUHAN.

Selesai ibadah saya ingin rileks sejenak karena lapar juga (sudah jam maksi). Namun akhirnya waktu langsung bergulir pada momen penting kedua. Saya terlibat perbincangan dengan tamu-tamu dari ujung Timur Indonesia. Mereka bertanya tentang kerinduan saya untuk ‘melayani’ di ladang misi. Singkat cerita perbincangan serius sembari makan siang akan jadi ingat-ingatan penting. Akhirnya kami makan bertiga dan saya menyimak dengan serius kesaksian mereka saat dulu pergi ke ladang misi dalam kondisi yang tidak ideal. Saat ini mereka telah mengalami terobosan dalam iman dan kehidupan jasmani (ekonomi). Mereka menggarisbawahi pentingnya agar orang misi tinggal minimal 1 tahun untuk menghasilkan buah yang tetap karena lebih efektif daripada trip-mission (berkunjung misi sesekali tanpa tinggal dalam kurun waktu tertentu.

Seandainya semua bisa berjalan sederhana, pikir saya. KehendakNya diketahui dengan mendapat ‘tanda/konfirmasi’ seperti kisah abang Tampubolon. Lain halnya dengan kisah bang Sitorus yang diangkat lebih tinggi, kepergiannya tidak diawali dengan tanda/penyataan ilahi, ia pergi berdasarkan panggilan hati. Memang karunia iman menyertai mereka yang mau mengabdi 100% di ladang misi. Tidak adil jika keberhasilan pelayanan hanya diukur dari tingkat kesejahteraan hamba-hambaNya saja. Semua tetap melihat hasil nyata dari banyaknya hidup yang terdampak, diubahkan (breaktrough). Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit kisah hidup hamba Tuhan yang menggemukkan dirinya sendiri tanpa benar-benar peduli (berbelas kasihan) pada jemaat yang dilayani (Yehezkiel 34).

Kondisi adik-adik di ujung timur sangat memprihatinkan secara edukasi, mental, dan rohani. Saya hanya menjawab kedua abang tadi bahwa selepas pulih 120% niat hati sangat ingin melayani di sana. Saya sampaikan bahwa minggu ini sedang mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan yang baru di sekolah internasional di Jakarta.

Sepanjang sabtu kemarin saya mendapatkan refresh tak terduga oleh sepupu di BSD perihal ilmu mengajar anak SD internasional dan melihat beberapa materi pendukung yang diperlukan. Keluarga kami sedang dibawa perlahan beradaptasi dengan pola pergaulan ‘global citizen’ lewat mereka. Dari paparan sepupu kami itu, saya mengerti betapa banyak warga Indonesia yang tidak siap untuk menghadapi persaingan global bahkan untuk mereka yang bertitel S2 atau S3 sekalipun. Miris sekali, selain lapangan pekerjaan yang semakin tergerus bayangkan juga nasib mereka yang tanahnya telah terjual di sepanjang nusantara. Mereka dijajah secara ekonomi baik oleh bangsanya sendiri ataupun pihak luar.

Momen penting ketiga. Di perjalanan pulang dari gereja, terbaca tulisan (update status FB) pembimbing saya di Australia yang mengutip Roma 15:1-2.

“Strength is to service not for status”

Saya meyakini kepemimpinan sejati itu berbicara tentang fungsi lebih daripada jabatan. Oleh karena itu dari dulu di gereja saya biasanya memilih pelayanan yang kurang personil dan kurang diperhatikan, termasuk untuk pilihan anak PA ataupun rekan berbincang di gereja (kumpulan teman yang kurang potensi jadi fokus perhatian).

Ah, andaikan Engkau berbicara langsung untuk gundah hati membayangkan adik-adik remaja dan pemuda di ujung imur sana BAPA. Terlalu banyak ‘puzzle peristiwa’ yang harus dirangkai untuk ditelaah. I really need Your wisdom DAD.

Semester ke-2 tahun 2017 ini harus ada terobosan besar selama tinggal di Jakarta Barat kalau memang diperlukan tambahan waktu sebelum menjejakkan kaki nun jauh di sana, itu saja yang terbersit untuk saat ini!

Possesing the Land (Exodus 23:29-30), to be continue..

Standard
Daily Experiences, Divine Toughts

​INTERUPSI ILLAHI

 Leading by the Spirit, new season – Next Level.
Berawal dari syukuran budaya jawa “selapan” di rumah sahabat dekat pada 14 Juni 2017, istrinya yang juga sahabat baik saya merekomendasikan 2 buku khusus pria untuk dibaca. Buku pertama, “Father’s School” yang ditulis oleh teman Yane membuka paradigma saya tentang proses kehidupan menjadi seorang ayah. Buku ini selesai dibaca hanya dalam waktu 3 jam malam itu. Buku yang kedua, “History Driver” berbicara lebih dalam tentang nilai luhur menjadi seorang ayah melalui pengalaman pribadi si penulis (Saminton Pangellah) yang dipulihkan hubungan pribadi dengan ayah jasmaninya agar ia mengalami terobosan rohani serta jasmani di dalam segala aspek. Siang tadi, 18 Juni 2017, saya melayani seorang teman yang baru datang untuk kedua kalinya ke gereja kami berdasarkan hikmat yang terdapat pada 2 buku di atas.
Sepanjang siang sampai sore tadi tak henti-hentinya nyanyian “Yesus yang Kuandalkan” oleh GMS bergema di hati. Kemudian terpampang flashback semua peristiwa dari akhir Mei – janji menduduki negri (Keluaran 23:29-30) lewat Reading Bible Movement (RBM) bersama grup Worshipper, lagu “Doa Yabes” di gereja saat awal Juni, beberapa pertemuan bisnis penting masih di awal Juni, ‘interupsi illahi’ melalui pembacaan 2 buku khusus pria, yang diakhiri dengan kotbah minggu di gereja hari ini tentang hati misi (Yesaya 49:6) telah membuat saya melambung dalam angan tentang apa yang DIA sedang sampaikan perihal visi ‘episentrum ekonomi’ di masa depan.

A time of reflection, is a time to exhale before running again.

 

Jika terbuka jalan untuk tinggal di jakarta barat pada kawasan kota mandiri terbaru, maka saya mengerti bahwa selama 6 bulan ini DIA sedang membawa saya melihat kota ini secara lengkap (Timur-Selatan-Utara-Barat). Hal tersebut sesuai dengan kisah 12 pengintai yang sedang dibaca pada RBM minggu ini.
Ini adalah kali kedua IA menginterupsi pembacaan Alkitab harian saya.
Sebelumnya itu pernah terjadi selama 1 bulan setelah saya terserang stroke pada 30 Desember 2014. Saya sempat dirawat 22 hari di RSCM karena lumpuh separuh badan sebelah kiri selama 20 hari akibat hipertensi, pecah pembuluh darah otak kanan. Sejak peristiwa itu perubahan karakter dan fisik terus dibentuk sampai sekarang.
Pada proses kali ini saya berharap dapat menjalaninya dengan lebih baik, menjadi seperti Kaleb yang bangkit menghadapi orang Enak demi mendapatkan Hebron ataupun maju seperti Daud yang datang dengan nama TUHAN untuk mengalahkan Goliat dan Filistin.
Tahun-tahun ke depan ada kota-kota, pulau-pulau, dan bangsa-bangsa sedang menunggu untuk dikunjungi. Jika saat ini saya mulai bermain basket kembali, mengendarai motor, mendapatkan pekerjaan baru, meletakkan dasar untuk beberapa bisnis, dan mengalami pemulihan paradigma tentang gambaran menjadi seorang Ayah, maka latihan badani nyata sekali ada gunanya (walau terbatas) dan latihan rohani (RBM) sangat besar dampaknya karena hikmat turun dan katakter dibentuk jadi samakin indah di sana.

Time to worship & reflection, not by might nor my skill
.. “Jesus It is You”

Standard