Daily Experiences, Uncategorized

Love Letter?

Expect the unexpected.

On the first week of this August, a 2nd grade student suddenly gave a stick note with mine & her name written at the back. I keep asking to myself: “why she did that?”, “why it happened?”.

Pure & Sincere, kids are clothed with that to remind us/adults.

I tried to remember what was going on in the past 1 month. Finally I rememberred our morning devotion moment in teacher’s room. That morning was my turn to lead our 10 minutes sharing. The guidence book told a true story about one bad guy that planning to rob a house since he already jobless for months. He came into a house and got supprised because there’s no one in that house but Kary, a little girl. She was welcoming the bad guy and serving him with smile, stories, & playing the piano to sing him songs. At the end of their conversation, the bad guy shock to know that Kary is actually a blind girl. Touched by what Kary had done, that criminal cancel his plan and quickly went out from that house with a shame. Few years later, Kary got operation and healed from her blindness. The doctor who did that once a criminal, he decided to join the medical school after met Kary for paid back the genuine love he had received.

This week we have a case with one of our special needs student. Our principal reply that we need to pray for the kid in whatsapp group. Then Holy Spirit breaking that 2 weeks of silence for answering my questions about the letter.

“What is the different between you as a teacher with others? The world need to see miracle and all will doing in HIS intervention. Christianity is not only a label (trademark) of this school, it’s really exist!”

Love life, spreading the good news.

Now I can see clearly the purpose & the reason of all facilities that I’ve got. Saving souls and opening gate for a chance and a wider perspective about this world to our pupils are the most important thing HE want me to understand. This awareness is already fill the school boarding house (teacher’s residence) but it’s need to become a massive value to all other teachers, staff, leaders, owner, & parents.

For an urgent reason I read news this week about how devil destruc kids around the world trough bullying & sexual insulting. The enemy know, there’s a great potential power laying in kid’s life to change the atmosphere, like what Kary did.

Psalms 8:2 (KJV)

Out of the mouth of babes and sucklings hast thou ordained strength because of thine enemies, that thou mightest still the enemy and the avenger.

Advertisements
Standard
Daily Experiences, Tahukah Anda?, Uncategorized

​Mata Lelaki.

Yang Muda VS Yang Dewasa.

Sore menjelang malam saya dan teman-teman satu kost terlibat perbincangan seputar lelaki, pria dengan fantasinya. Menurut teman-teman saya, lawan jenis kadang menyimpan rapat sebuah hasrat namun beberapa dari mereka tidak pemalu dan mengumbar pesona lewat geliat atau busana tertentu. Pada akhirnya kami sepakat bahwa hal-hal yang tabu baik untuk dibincangkan lewat kerangka berpikir yang sehat. Jika coba dipendam, hal itu akan mencari ‘jalan keluar’ lewat berbagai usaha yang kadang konyol (childish).

Secara pribadi, aspek kehidupan seputar hasrat dan cinta serta beragam sisi yang menyertainya adalah indah, walau dalam beberapa kondisi khusus diperlukan komunikasi terbatas.

Hal menggelitik yang menggulirkan tulisan ini adalah kejadian minggu siang di lantai 4 food court, mall seputar Kuningan. Seorang pria muda baru saja datang. Ia celingak-celinguk, terlihat bingung mencari tempat duduk. Bukannya tidak ramah, adapun saya sedang terlibat pembicaraan serius dan kebetulan hanya kenal sekilas dengannya. Untuk seketika dia sempat berdiri tidak jauh dari meja kami. Sesekali matanya melirik pojokan meja dekat dinding kaca ruangan. Di sana duduk seorang wanita oriental yang mengenakan baju longgar tanpa lengan. Setau saya, pria ini sudah memiliki pasangan, tapi sepertinya sedang lupa memakai ‘kaca mata kuda’ saat sang gadis tidak terlihat dalam area radarnya. Sayapun sekilas memperhatikan wanita muda itu sekitar 20 menit yang lalu. Saat itu saya dan rekan baru memulai pembicaraan serius seputar isu sosial. Wanita muda tadi tiba-tiba datang dan memilih duduk sendirian, tidak jauh dari kami. Ia lantas mojok terlihat sibuk dengan laptopnya.

Setelah perbincangan seputar lelaki malam Rabu, entah mengapa peristiwa 3 minggu lalu terlintas kembali…

Kelemahan dan kekuatan lelaki pertama-tama mungkin memang di matanya. Pria dianugerahi cara berpikir logis lewat apa yang dilihatnya langsung. Namun petaka yang samapun berlaku jika mata tidak dijaga. Untuk tingkat lanjut beberapa pria dianugerahi ‘vision’, kemampuan melihat masa depan dan hal-hal besar.

Alkisah seorang budak di Mesir disuguhi pemandangan indah nyonya dari tuannya, mungkin hampir setiap hari. Pada suatu kesempatan, di ruangan itu hanya ada mereka berdua, tidak ada halangan untuk berbuat bebas. Lagipula sang nyonyalah yang datang untuk menawarkan diri. Hebatnya, sesaat kemudian sang budak memilih untuk kabur. Karena sang nyonya kesal telah ‘ditolak’ permintaannya, si budak difitnah melakukan pelecehan fisik. Kehormatan moral sebenarnya akan terlihat dari sikap dan keputusan di saat yang kritis. Pada banyak cerita hidup hal itu melampaui status sosial, strata pendidikan, dan kekayaan.

Perbincangan kami tentang mentalitas pria dan kesetiaannya memang ambigu. Kaum lelaki dilahirkan alamiah dengan potensi besar untuk menyalurkan hasrat dalam sekejap. Manusia pertama bernama Adam di Taman Eden secara tersirat adalah contoh yang gamblang. Dilihatnya buah di tengah taman itu sedap & tergigit. Ia lantas menghabiskan sisanya tanpa banyak komentar. Saat diminta tanggungjawab oleh Sang Empunya Pohon Buah Terlarang ia lantas melempar kesalahan penuh pada sang penggigit buah pertama.

Godly man.. pursueing Godly principal

Mungkin benar seloroh teman akademisi bahwa bahwa kebanyakan Adam dengan matanya itu ‘lambat dewasa’. Ia lupa bahwa semua keindahan yang dilihatnya tidak selamanya mulus terawat (temporary, need handling with care). Semua tindakan fisik menuntut tanggungjawab moral, semua hal fisik ada masa kadaluarsanya juga.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapapun, sayapun bercermin sembari menulisnya. Namun sejujurnya sebagai pria utuh, siapapun lelaki perlu menginsyafi dirinya dalam melewati tahapan jiwa muda untuk kemudian menjadi dewasa. Sebelum kedewasaan itu menjadi penuh maka ia akan dikendalikan oleh mata jasmani yang hakekatnya selalu menuntut pemuasan segera. Muncul kemudian istilah puber kedua dan ketiga sebagai analogi ‘pembenaran’. Tidak heran banyak dari kami yang diam-diam tergelincir jatuh bahkan untuk pribadi yang berhikmat tinggi seperti raja Salomo (Sulaiman) sekalipun.

Standard
Daily Experiences, Uncategorized

​Panggilan Misi (A Heart of Mission)

A reminder, an alert for those lost (crying) souls.
Minggu pagi yang tidak menyenangkan. Terlambat ibadah gereja karena salah turun di stasiun kereta, bayar ojek online double (deposit dan tunai, error system), dan beberapa pengalaman lainnya. Padahal semuanya hampir sempurna karena berangkat lebih awal dan di awal perjalanan kereta saya sempat lanjutkan Reading Bible Movement (RBM) dari Yosua 2.

Sepanjang sisa perjalanan ke gereja saya mencoba untuk tetap tenang dan memasang muka tebal di saat turun dari ojek G*ab. Khususnya setelah mengetahui bahwa saya telat 1 jam ke gereja dan membayar double untuk tarif ojek.

Anehnya ada anak youth yang datang terlambat juga sebagai teman masuk (bukan pembenaran). Saya sedikit terhibur karena di lift ia bercerita perihal bisnisnya yang sudah berjalan 3 bulan dan menghasilkan omzet stabil 3x lipat dari modal awal.

Selesai percakapan di lift, kami berdua masuk dan berpisah bangku duduk. Saya duduk di baris belakang bersama Frendy, seorang dengan kepribadian baik-lugu-sederhana. Di akhir kotbah, sang pendeta menyinggung Pak BTP yang sedang mengalami ujian hidup. Sempat tertawa kecil dalam hati, karena entah kenapa saya nekat pagi tadi, kangen untuk mengenakan kemeja kotak-kotak ‘ala Basuki-Djarot’. 

Momentum penting pertama datang saat si pengkotbah meminta jemaat saling mendoakan. Frendy membagikan beban doa perihal orangtuanya yang sakit. Jadilah Roh Kudus gerakkan saya membagikan kesaksian pribadi tentang perjuangan pemulihan dari kelumpuhan stroke dan mengingatkan dia cerita di Alkitab tentang iman 4 pengusung (pendamping) orang lumpuh yang membawa si sakit dari atap rumah untuk menerobos masuk agar teman mereka dijamah TUHAN.

Selesai ibadah saya ingin rileks sejenak karena lapar juga (sudah jam maksi). Namun akhirnya waktu langsung bergulir pada momen penting kedua. Saya terlibat perbincangan dengan tamu-tamu dari ujung Timur Indonesia. Mereka bertanya tentang kerinduan saya untuk ‘melayani’ di ladang misi. Singkat cerita perbincangan serius sembari makan siang akan jadi ingat-ingatan penting. Akhirnya kami makan bertiga dan saya menyimak dengan serius kesaksian mereka saat dulu pergi ke ladang misi dalam kondisi yang tidak ideal. Saat ini mereka telah mengalami terobosan dalam iman dan kehidupan jasmani (ekonomi). Mereka menggarisbawahi pentingnya agar orang misi tinggal minimal 1 tahun untuk menghasilkan buah yang tetap karena lebih efektif daripada trip-mission (berkunjung misi sesekali tanpa tinggal dalam kurun waktu tertentu.

Seandainya semua bisa berjalan sederhana, pikir saya. KehendakNya diketahui dengan mendapat ‘tanda/konfirmasi’ seperti kisah abang Tampubolon. Lain halnya dengan kisah bang Sitorus yang diangkat lebih tinggi, kepergiannya tidak diawali dengan tanda/penyataan ilahi, ia pergi berdasarkan panggilan hati. Memang karunia iman menyertai mereka yang mau mengabdi 100% di ladang misi. Tidak adil jika keberhasilan pelayanan hanya diukur dari tingkat kesejahteraan hamba-hambaNya saja. Semua tetap melihat hasil nyata dari banyaknya hidup yang terdampak, diubahkan (breaktrough). Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit kisah hidup hamba Tuhan yang menggemukkan dirinya sendiri tanpa benar-benar peduli (berbelas kasihan) pada jemaat yang dilayani (Yehezkiel 34).

Kondisi adik-adik di ujung timur sangat memprihatinkan secara edukasi, mental, dan rohani. Saya hanya menjawab kedua abang tadi bahwa selepas pulih 120% niat hati sangat ingin melayani di sana. Saya sampaikan bahwa minggu ini sedang mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan yang baru di sekolah internasional di Jakarta.

Sepanjang sabtu kemarin saya mendapatkan refresh tak terduga oleh sepupu di BSD perihal ilmu mengajar anak SD internasional dan melihat beberapa materi pendukung yang diperlukan. Keluarga kami sedang dibawa perlahan beradaptasi dengan pola pergaulan ‘global citizen’ lewat mereka. Dari paparan sepupu kami itu, saya mengerti betapa banyak warga Indonesia yang tidak siap untuk menghadapi persaingan global bahkan untuk mereka yang bertitel S2 atau S3 sekalipun. Miris sekali, selain lapangan pekerjaan yang semakin tergerus bayangkan juga nasib mereka yang tanahnya telah terjual di sepanjang nusantara. Mereka dijajah secara ekonomi baik oleh bangsanya sendiri ataupun pihak luar.

Momen penting ketiga. Di perjalanan pulang dari gereja, terbaca tulisan (update status FB) pembimbing saya di Australia yang mengutip Roma 15:1-2.

“Strength is to service not for status”

Saya meyakini kepemimpinan sejati itu berbicara tentang fungsi lebih daripada jabatan. Oleh karena itu dari dulu di gereja saya biasanya memilih pelayanan yang kurang personil dan kurang diperhatikan, termasuk untuk pilihan anak PA ataupun rekan berbincang di gereja (kumpulan teman yang kurang potensi jadi fokus perhatian).

Ah, andaikan Engkau berbicara langsung untuk gundah hati membayangkan adik-adik remaja dan pemuda di ujung imur sana BAPA. Terlalu banyak ‘puzzle peristiwa’ yang harus dirangkai untuk ditelaah. I really need Your wisdom DAD.

Semester ke-2 tahun 2017 ini harus ada terobosan besar selama tinggal di Jakarta Barat kalau memang diperlukan tambahan waktu sebelum menjejakkan kaki nun jauh di sana, itu saja yang terbersit untuk saat ini!

Possesing the Land (Exodus 23:29-30), to be continue..

Standard
Divine Toughts, Uncategorized

Visi Hidup

Now or never, no guts no glory.

Seorang teman wanita pernah bertanya pada saya di awal tahun 2016: “Bang, apa visi hidupmu bang?” Saat itu saya tidak siap menjawabnya karena memang tidak memiliki jawaban yang pasti.

Berjalan dengan waktu saya bergaul dengan dia karena tergugah dengan gayanya yang ceplas-ceplos dan sederhana. Namun hal paling penting yang saya alami adalah, lewat dia saya seperti diajak merenung agar kembali berjalan ‘on the track’.

Leading with Example

Tahun 2016 bukanlah masa yang indah, setidaknya bagi orang luar yang melihat perjalanan hidup saya. Di tahun itu saya putuskan berhenti dari pekerjaan kantor dan hobi olah raga basket demi fokus pada latihan rutin rohani dan jasmani demi mempercepat program pemulihan pasca stroke (lumpuh separuh badan bagian kiri). Di pertengahan tahun 2016 saya mulai menjual kue bersama keluarga di depan sekolah SD swasta di dekat rumah. Sepanjang tahun 2016 sayapun belajar menghargai setiap waktu yang berjalan dan apa arti kesabaran. Ada kegagalan lain yang sempat menyesakkan tapi pada akhirnya saya belajar apa arti sukses yang sejati dalam makna yang lebih luas.
Kembali pada pertanyaan visi hidup, saya teringat di suatu malam pada akhir 2016 atau awal 2017. Malam itu saya berkhayal tentang bagaimana rasanya jadi seorang guru SD dan terlihat awet muda di antara mimik murid-murid yang unyu dan lucu itu. Selama 1 semester berjualan dan berteman dengan anak-anak SD pelanggan kuliner kami, saya mendapati ada beberapa anak yang cerdas dibalik tingkah polah konyol dan banyolan mereka. Namun sebagian besar dari mereka tidak menyadari potensi tersebut. Arti sebuah cita-cita tidak mereka miliki, menyedihkan.

Beberapa siswa-siswi SD tiranus yang pelanggan setia, teman bernyanyi, bercanda, dan selfie.


Roda hidup berputar cepat dan visi hidup menjadi pengusaha menelusup perlahan tapi pasti. Saya termotivasi untuk memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik sambil menyumbang pada sesama dan sekitar. Tujuan yang mulia, mencapaiya juga tidak mudah dengan kondisi fisik yang belum ideal 120%.

Tahun 2017 dimulai dengan sangat lambat sampai akhirnya awal Maret (1 tahun setelah resign dari kantor) saya mendapatkan pekerjaan. Dibarengi dengan merintis bisnis sendiri, perlahan tapi pasti fisikpun semakin kuat karena latihan rutin di pagi hari. Sempat tercetus 1 kali untuk meminta pekerjaan yang baru di dalam Mezbah Keluarga kami, tapi hal itupun terlupa seiring berjalannya waktu.

Pembacaan Alkitab rutin harianlah yang membuat saya tetap waras. Hal itu dilakukan sejak tahun 2013 ketika ‘anak yang hilang’ sedang mencari jalan untuk pulang. Tibalah Juni 2017 yang merupakan titik naik dalam kehidupan saya. Jawaban dari doa yang terlupakan dan produk bisnis yang lebih visible akhirnya muncul. Juni akhir 2017 saya diterima sebagai guru SD melalui proses yang awalnya kurang antusias untuk diikuti. Bahkan saat ditawari untuk tinggal di mess (wisma) sekolah dan mereka tidak menawar turun gaji yang diminta sempat membuat saya tercengang.

Entahlah, begitu banyak rencana disiapkan saat pintu-pintu ini sedang dibuka. Namun satu hal yang saya percaya, DIA peduli untuk siapapun orang yang mau belajar menghidupi sebuah visi. Seperti anak panah yang harus ditarik ke belakang sebelum ia melesat, harapan saya sampai tahun 2017 berakhir adalah dapat memberikan dasar pengajaran yang kuat di sekolah serta melaksanakan tata kelola usaha yang lebih rapih. Sambil berjalan semakin kuat, saya yakin IA akan menunjukkan parter yang tepat dalam menghidupi visi hidup bersama.

Adalah dilema memang saat kita berusaha mencapai visi, waktu terasa berlalu cepat apalagi di saat yang sama sumber daya yang tersedia hampir habis. Yang saya tahu, secara pribadi bidang pendidikan dan misi begitu kuat memanggil saya.

Standard
Daily Experiences, Uncategorized

TEACHER’S DAY 2016

A Short Life Memory that sometime bring smile on me..

Banyak guru di negri ini tidak terdokumentasi pengabdiannya, karena mereka sejatinya jauh dari mencari publisitas. Kebahagiaan utama mereka adalah menjejakkan kaki berangkat dari rumah, seraya terbayang deretan lukisan wajah sumringah peserta didik yg haus ilmu dan penuh rasa penasaran sedang menanti di ruang kelas.

Entah bagaimana caranya, seorang guru menjadi aktor/aktris yg lihai dalam membagikan materi pelajaran. Ia kesampingkan beban urusan rumah tangga, kadang rasa jengkel krn tingkah-laku murid, serta kendala hidup lainnya demi memuaskan hasrat menimba ilmu calon generasi pemimpin bangsa.

Kebahagian yg tak kalah serunya adalah ketika mendapati siswa/i-nya menemukan panggilan hidup mereka & menapaki jalan untuk meraih mimpi dan cita yg sempat terkubur.

Mata terbelalak dan senyum yg menyeringai nampak dari wajah-wajah polos di saat mereka seakan mengerti dan menangkap satu atau dua kalimat bermakna luhur setelah 30-45 menit mulut sang guru berbusa mengoceh stand up teaching yg kadang dibumbui komedi garing dan dipaksakan untuk sekedar mengantisipasi jatah mengajar jam kritis (biasanya setelah maksi atau jam pelajaran terakhir, khususnya 10 menit sblum bel pulang sekolah), hahaha..

Kapur dan Papan Hitam, duet pamungkas pejuang pencerah di pelosok nusantara

Saya selalu ingat ucapan mantan bos sebuah institusi pendidikan di kota Bekasi. Guru itu punya kemampuan untuk menutup pintu penjara dibelakang murid-muridnya atau sebaliknya, membuka pintu penjara di depan gerbang kehidupan mereka. Sejak saat itu ada niatan serius yg muncul untuk coba memberikan yg terbaik, lebih dari sekedar materi ajar (textbook).

Bukan sebuah kebetulan, sekolah menengah yg sempat saya singgahi selama 4 tahun menerima lebih dari 50% murid dari kalangan ekonomi miskin. Sehingga saya tahu persis tentang pintu penjara yang dimaksudkan oleh ibu bos kami itu, kebodohan dan kemiskinan.

Secara input siswa .. tingkat intelegensia, kerajinan, dan karakter peserta didik kami sangatlah jauh dari ideal. Demi idealisme yayasan, 2 anak autis sempat ikut belajar reguler walau diatur posisi mereka agar masing-masing berada di kelas yg berbeda. Hal itu benar-benar menjadi tantangan tersendiri untuk pengqjar dengan paradigma konvensional seperti saya juga.

Di masa awal heboh siswa yg harus mengulang krn tidak lulus UN, saya sebagai walas (wali kelas) mengalami menghadap ke orangtua murid utk menjelaskan juga pada si anak bahwa hal menyedihkan yg menimpanya itu bukanlah kiamat kecil dunia.

Belakangan saya mengerti mengapa banyak murid yang sulit fokus dan mengantuk di kelas, itu terjadi bukan karena mereka begadang bermain game atau medsos semata.. tapi khususnya di sekolah kami, untuk sarapan saja kadang mereka harus melewatkannya. Ada juga siswa yg ditemukan tidak baik penglihatannya krn kurang vitamin A, lengkaplah sudah kemalangan anak ini pikir kami.

Membangkitkan minat belajar adalah tantangan tersendiri, mengingat segala kekurangan yg membuat effort/usaha merekapun sering tidak mencapai standar minimal yg diminta/KKM. Krn saya bukan tipe pendidik dongkrak nilai otomatis, maka habislah waktu dipakai utk mendampingi mereka mengejar ketertinggalan di luar jam pelajaran sebagai konsekuensinya.

Sampai akhirnya, saya putuskan untuk cari cara agar mereka mau terbuka dan mengakrabkan diri, karena minat belajar yg tidak ditunjang fasilitas belajar oleh yayasan membuat KBM (KegiatanBelajarMengajar) mati kutu.

Ekstasi yang membangunkan kebanyakan siswa adalah bel istirahat. Ya, sederhananya.. untuk sebagian siswa/i kami, sekolah adalah tempat pelarian dari kehidupan keras di jalanan. Murid lelaki khususnya, akan berlarian sampai bermandi keringat untuk kembali ‘pingsan’ sambil menyebarkan aroma semerbak saat masuk kelas setelah bel selesai istirahat berbunyi.

Apa yang saya punya sangat sedikit untuk menarik minat mereka pada bidang studi Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) ditambah pengalaman psikologi pendidikan yang nihil sempat membuat saya stess selama 2 tahun awal pengabdian. Sisa 2 tahun berikutnya saya coba temani mereka di lapangan sambil bermain basket dengan biasa memilih anak-anak yg tidak akan dilirik  di dalam grup yang lain. Pemikiran sederhana bahwa seorang murid dapat menyukai suatu pelajaran dimulai dengan menyukai sang pengajar.

Ya, awalnya hanya untuk mengakrabkan diri lewat hobi yg saya gemari sejak smp dulu. Namun karena tim dengan anggota terlemah seringkali menang, lambat laun itu menumbuhkan percaya diri anak-anak yg terpinggirkan, kok ada rasa haru-senang-bercampur aduk karena mereka tampak menikmati setiap momentum berhasil/menang ataupun gagal/kalah untuk tetap tersenyum.

Selain bermain jujur/ikut aturan, mereka belajar menerima hasil permainan yg tidak harus menang walau biasanya guru selalu benar/menang di kelas, nilai-nilai hidup universal yg membangun mulai tumbuh dan menular dari lapangan ke dalam ruang kelas.

Ya, di ruang kotak berisi 25-27 siswa itu, ada tantangan untuk membuka mata mereka melihat ke luar dan ke masa depan melampaui materi ajar yang kadang menjemukan krn terbatas fasilitas oleh yayasan. Namun saat jam istirahat atau pulang sekolah, inilah saat pendidikan hidup tentang kerjasama tim/strategi, menolong/menghargai/memotivasi anggota yang lemah, menikmati permainan, serta berjuang sampai saatnya pertandingan berakhir saya bisa bagikan tanpa mereka sadari.

Beberapa dari mereka masih menyapa lewat media sosial, kebanyakan sibuk dengan pergaulannya sendiri. Seperti kalimat pembukaan pada paragraf awal, tulisan ini bukan tentang publisitas.. hanya sebuah asa selepas tengah malam mengenang masa indah 4 tahun dengan para remaja belia di persimpangan hidupnya yg kala itu sedang berjuang meraba arah masa depan.

Sejujurnya, di sisi yg lain sy belajar sangat banyak dari mereka yg disebut murid. Beberapa di antara mereka mempunyai ide pemikiran dan potensi dahsyat utk anak remaja seusia mereka. Ya, ada banyak intan dan emas yg masih perlu dipoles sedang menanti proses hidup agar disemangati sang mentor.

Hooam, hari sudah berganti.. dan saatnya melanjutkan mimpi untuk esok yang pasti lebih baik 😀

Reminder for me as an ex.teacher.

Standard
Uncategorized

HIS Grace is more than Enough

Men are Fragile without HIM!

Peter was made more authentic and therefore stronger after an uncomfortable chapter of life. Moses was made useful years after a mistake he ran away from. Hiding out in the wilderness, he was finally prepared. Paul seemed to never forget the depths from which he was delivered as a persecutor of Christians.

All three have this one thing in common – they were more useful after they got a revelation of their own frailty. Each thought they knew what God wanted to do – and missed it. Peter thought himself the defender of the Christ. Moses thought he was the champion of the oppressed and Paul thought he was purifying the true move of God from a dangerous deception. All acted in righteous rage and all were wrong.

image

Jesus, lover of human souls.. a good shepherd.

Peter and Moses ran away from their mistakes. Paul ran into divine discipline and redemption. All became stronger because of a revelation of their weakness.

Don’t disqualify yourself because of weakness, but rather remember this verse from Hebrews: “out of weakness they were made strong.”

source:
Lance Wallnau’s FB page

Standard