Divine Toughts, Tahukah Anda?

Overcomer

Grateful with imperfect condition is the true meaning of Perfection.

“I was in the deepest pit of my life but Jesus lifted me out.” – Mandisa.

If you are in need of renewed purpose and a sense of worth, watch Madisa’s incredible testimony and be encouraged that we serve a God who wants to give you those very things. 

Read more: http://share.cbn.com/5pmr6

Standard
Divine Toughts, Uncategorized

Visi Hidup

Now or never, no guts no glory.

Seorang teman wanita pernah bertanya pada saya di awal tahun 2016: “Bang, apa visi hidupmu bang?” Saat itu saya tidak siap menjawabnya karena memang tidak memiliki jawaban yang pasti.

Berjalan dengan waktu saya bergaul dengan dia karena tergugah dengan gayanya yang ceplas-ceplos dan sederhana. Namun hal paling penting yang saya alami adalah, lewat dia saya seperti diajak merenung agar kembali berjalan ‘on the track’.

Leading with Example

Tahun 2016 bukanlah masa yang indah, setidaknya bagi orang luar yang melihat perjalanan hidup saya. Di tahun itu saya putuskan berhenti dari pekerjaan kantor dan hobi olah raga basket demi fokus pada latihan rutin rohani dan jasmani demi mempercepat program pemulihan pasca stroke (lumpuh separuh badan bagian kiri). Di pertengahan tahun 2016 saya mulai menjual kue bersama keluarga di depan sekolah SD swasta di dekat rumah. Sepanjang tahun 2016 sayapun belajar menghargai setiap waktu yang berjalan dan apa arti kesabaran. Ada kegagalan lain yang sempat menyesakkan tapi pada akhirnya saya belajar apa arti sukses yang sejati dalam makna yang lebih luas.
Kembali pada pertanyaan visi hidup, saya teringat di suatu malam pada akhir 2016 atau awal 2017. Malam itu saya berkhayal tentang bagaimana rasanya jadi seorang guru SD dan terlihat awet muda di antara mimik murid-murid yang unyu dan lucu itu. Selama 1 semester berjualan dan berteman dengan anak-anak SD pelanggan kuliner kami, saya mendapati ada beberapa anak yang cerdas dibalik tingkah polah konyol dan banyolan mereka. Namun sebagian besar dari mereka tidak menyadari potensi tersebut. Arti sebuah cita-cita tidak mereka miliki, menyedihkan.

Beberapa siswa-siswi SD tiranus yang pelanggan setia, teman bernyanyi, bercanda, dan selfie.


Roda hidup berputar cepat dan visi hidup menjadi pengusaha menelusup perlahan tapi pasti. Saya termotivasi untuk memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik sambil menyumbang pada sesama dan sekitar. Tujuan yang mulia, mencapaiya juga tidak mudah dengan kondisi fisik yang belum ideal 120%.

Tahun 2017 dimulai dengan sangat lambat sampai akhirnya awal Maret (1 tahun setelah resign dari kantor) saya mendapatkan pekerjaan. Dibarengi dengan merintis bisnis sendiri, perlahan tapi pasti fisikpun semakin kuat karena latihan rutin di pagi hari. Sempat tercetus 1 kali untuk meminta pekerjaan yang baru di dalam Mezbah Keluarga kami, tapi hal itupun terlupa seiring berjalannya waktu.

Pembacaan Alkitab rutin harianlah yang membuat saya tetap waras. Hal itu dilakukan sejak tahun 2013 ketika ‘anak yang hilang’ sedang mencari jalan untuk pulang. Tibalah Juni 2017 yang merupakan titik naik dalam kehidupan saya. Jawaban dari doa yang terlupakan dan produk bisnis yang lebih visible akhirnya muncul. Juni akhir 2017 saya diterima sebagai guru SD melalui proses yang awalnya kurang antusias untuk diikuti. Bahkan saat ditawari untuk tinggal di mess (wisma) sekolah dan mereka tidak menawar turun gaji yang diminta sempat membuat saya tercengang.

Entahlah, begitu banyak rencana disiapkan saat pintu-pintu ini sedang dibuka. Namun satu hal yang saya percaya, DIA peduli untuk siapapun orang yang mau belajar menghidupi sebuah visi. Seperti anak panah yang harus ditarik ke belakang sebelum ia melesat, harapan saya sampai tahun 2017 berakhir adalah dapat memberikan dasar pengajaran yang kuat di sekolah serta melaksanakan tata kelola usaha yang lebih rapih. Sambil berjalan semakin kuat, saya yakin IA akan menunjukkan parter yang tepat dalam menghidupi visi hidup bersama.

Adalah dilema memang saat kita berusaha mencapai visi, waktu terasa berlalu cepat apalagi di saat yang sama sumber daya yang tersedia hampir habis. Yang saya tahu, secara pribadi bidang pendidikan dan misi begitu kuat memanggil saya.

Standard
Daily Experiences, Divine Toughts

​INTERUPSI ILLAHI

 Leading by the Spirit, new season – Next Level.
Berawal dari syukuran budaya jawa “selapan” di rumah sahabat dekat pada 14 Juni 2017, istrinya yang juga sahabat baik saya merekomendasikan 2 buku khusus pria untuk dibaca. Buku pertama, “Father’s School” yang ditulis oleh teman Yane membuka paradigma saya tentang proses kehidupan menjadi seorang ayah. Buku ini selesai dibaca hanya dalam waktu 3 jam malam itu. Buku yang kedua, “History Driver” berbicara lebih dalam tentang nilai luhur menjadi seorang ayah melalui pengalaman pribadi si penulis (Saminton Pangellah) yang dipulihkan hubungan pribadi dengan ayah jasmaninya agar ia mengalami terobosan rohani serta jasmani di dalam segala aspek. Siang tadi, 18 Juni 2017, saya melayani seorang teman yang baru datang untuk kedua kalinya ke gereja kami berdasarkan hikmat yang terdapat pada 2 buku di atas.
Sepanjang siang sampai sore tadi tak henti-hentinya nyanyian “Yesus yang Kuandalkan” oleh GMS bergema di hati. Kemudian terpampang flashback semua peristiwa dari akhir Mei – janji menduduki negri (Keluaran 23:29-30) lewat Reading Bible Movement (RBM) bersama grup Worshipper, lagu “Doa Yabes” di gereja saat awal Juni, beberapa pertemuan bisnis penting masih di awal Juni, ‘interupsi illahi’ melalui pembacaan 2 buku khusus pria, yang diakhiri dengan kotbah minggu di gereja hari ini tentang hati misi (Yesaya 49:6) telah membuat saya melambung dalam angan tentang apa yang DIA sedang sampaikan perihal visi ‘episentrum ekonomi’ di masa depan.

A time of reflection, is a time to exhale before running again.

 

Jika terbuka jalan untuk tinggal di jakarta barat pada kawasan kota mandiri terbaru, maka saya mengerti bahwa selama 6 bulan ini DIA sedang membawa saya melihat kota ini secara lengkap (Timur-Selatan-Utara-Barat). Hal tersebut sesuai dengan kisah 12 pengintai yang sedang dibaca pada RBM minggu ini.
Ini adalah kali kedua IA menginterupsi pembacaan Alkitab harian saya.
Sebelumnya itu pernah terjadi selama 1 bulan setelah saya terserang stroke pada 30 Desember 2014. Saya sempat dirawat 22 hari di RSCM karena lumpuh separuh badan sebelah kiri selama 20 hari akibat hipertensi, pecah pembuluh darah otak kanan. Sejak peristiwa itu perubahan karakter dan fisik terus dibentuk sampai sekarang.
Pada proses kali ini saya berharap dapat menjalaninya dengan lebih baik, menjadi seperti Kaleb yang bangkit menghadapi orang Enak demi mendapatkan Hebron ataupun maju seperti Daud yang datang dengan nama TUHAN untuk mengalahkan Goliat dan Filistin.
Tahun-tahun ke depan ada kota-kota, pulau-pulau, dan bangsa-bangsa sedang menunggu untuk dikunjungi. Jika saat ini saya mulai bermain basket kembali, mengendarai motor, mendapatkan pekerjaan baru, meletakkan dasar untuk beberapa bisnis, dan mengalami pemulihan paradigma tentang gambaran menjadi seorang Ayah, maka latihan badani nyata sekali ada gunanya (walau terbatas) dan latihan rohani (RBM) sangat besar dampaknya karena hikmat turun dan katakter dibentuk jadi samakin indah di sana.

Time to worship & reflection, not by might nor my skill
.. “Jesus It is You”

Standard
Divine Toughts, Pojok Canda

A Joke in Many People’s Path.

​Re-definition a success story.

Changing direction is a common thing in life event. Every season has it own struggle and we are equiping with ability to make some adaptation. Cheer up! 😁

I didn’t like this picture at first but for some reasons it’s a good reminder for me.

Welcoming April 2017, continuesly walking with unlimitedGOD even if it’s need to crawl.

#purpose #wisdom #vision

Standard
Daily Experiences, Divine Toughts

Before Soaring like Eagle!

​Build an Unshakeable Foundation.

This recent week, I’ve been questioning GOD about things I was going trough for the past 15-19 years. Starting with a deep connection with HIM in the first 5 years, then a flat relationship for another 5 years, an empty (even some minus score) for the next 5 years, & a come back journey with turbulance for this last 4 years, hehe..

It’s told that, “a true leader were made – not born.” All great warriors of faith in the Bible went trough wilderness & survive with GOD. Yeah, I’m reminding about Jacob at Pniel (Genesis 32), a moment of truth for Israel’s recognition. It’s a story of a man phisically  struggling with GOD, I read it one or two days before Dec. 30th, 2014 (stroke) where my daily reading got postpone. Like an eagle with it’s middle age stage, I had to choose: taking ‘a deep sleep’ or carry on with the next half page of my life as a second chance with hustle effort.

Isaiah 40:31 (KJV) But they that wait upon the LORD shall renew their strength; they shall mount up with wings as eagles; they shall run, and not be weary; and they shall walk, and not faint.

An eagle is special because it lives with uncommon way of living. It has amazing potential to live 60-100 years with a process trough near death experience around age of 30-40 years (you could googling & read literatures about it).

*****

Back to all hardship that all people in this world going trough. Perhaps only less than 1% could see opportunity beyond hardship and turn it into something great, a new bright future for them & society (the world).

It’s a common things for a master builder to spend more than 70% of all resources to established strong foundation before a highsky building stand tall. I believe hardship in this life is a part of process to setup an unshakeable foundation whiches contain vision, character & attitude. Some hardship might happen cause by our own mistakes but when you understand the situation and start all over again then it’s okay. Thomas Alfa Edison noted his 9.999 fail experiments as a brigde to the way of success before finally found the source of light (electric). I don’t know if he ever knew how important his invention for humanity. I read that his remarkable background and character was a result of his parents’ faith that believe an autis boy like him deserve a chance of having good education.

When vision-characters-attitude need to be tested & sharpen in the life process, our right response will help us to go trough it faster than any other complainers or quitters.

HE always has good purpose in every step of this life (Romans 8:28).

Many people only having complain and less evaluate their path. So they’ll end up in routine activities that they don’t even like or passionate (die trying to do it).

Just make sure that you are really positive (believe) about the vision you are working on right now and figure out how bad do you want it to become a reality, like an eagle that choosing to passing trough near death experience for having another remarkable 30-50 years of living and lots of ‘soaring flight’ in the sky graciously (elegant).

Noted:

Everybody makes mistakes, sometime choosing the wrong directions and made wrong decissions. I won’t be ashame to makes some changing about my mistakes before it’s too late because some real event ahead won’t be able to ‘erase’.

I’m trying to hold with the vision as a clue for every stairs and crossroads that I’m going trough. Like someone ever said, It’s okay to be A both Masterpiece and A work in progress!

*****
Reminding 1 March 2015, a thanksgiving day with family & friends at home pasca my stroke incident i Dec. 30th, 2014!

Standard
Divine Toughts

David-Intimacy, the Power of Leadership (2)

​Part 2 – Entering the Calling, a Life Process in Wilderness.

Inspirasi tulisan lanjutan ini datang saat mengikuti acara rohani di villa gereja pada minggu ke-2 Februari 2017. Perikop kemenangan besar raja Daud atas bangsa Filistin dengan ‘cara yg tidak biasa’ merupakan hasil dari keintiman dengan TUHAN sehingga petunjuk detail didapat dan Daud mengeksekusi strategi tersebut dengan tepat (2Sam 5:17-25). Kemenangan besar itu adalah poin penting untuk mengokohkan Daud yg baru saja dilantik menjadi raja Israel.

Selama lebih dari 10 tahun sejak diurapi, Daud menantikan penggenapan dirinya menjadi raja Israel. Sebagian besar dari masa penantian itu dilewatkan di antara gunung batu dan padang belantara (tergambar eksplisit pd kitab Mazmur). Pada masa ‘kesesakan’ ini banyak orang bergabung dengan dia. Pada awalnya sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yg bermasalah (1Sam 22:1-2). Menghadapi berbagai kesukaran di belantara, jumlah pengikutnya semakin bertambah. Pada saat tertentu besarnya jumlah pengikut berbanding lurus dengan besarnya beban yg dipikul. Daud sempat melakukan kesalahan di Ziklag yg hampir membuatnya terbunuh oleh kemarahan orang-orang yg dipimpinnya. Namun karena respon yg tepat Tuhan memulihkan keadaan mereka semua setelah peristiwa itu (1Sam 29-30).

Sebagai catatan khusus, para pengikut Daud yg setia sejak di gua Adulam sampai ia menjadi raja Yehuda adalah saksi dari segala kelemahan dan keberhasilan Daud. Seiring berjalannya waktu, para pengikutnya berubah dari kumpulan pecundang menjadi para pahlawan yg gagah perkasa (2Sam 23). Mereka cukup gila untuk percaya pada Daud bahwa untuk menghadapi musuh yg sama, bangsa Filistin, dibutuhkan 2 strategi berbeda dan yg terakhir ‘tidak biasa’ (menunggu pohon kertau berbunyi).

Saya tidak tau apakah ia seorang yg pandai berorasi dan menghipnotis penonton seperti aktor Mel Gibson di film BraveHeart. Namun secuplik cerita tentang dirinya yg sempat kehausan dan disertai pengorbanan beberapa dari mereka utk memuaskan rasa dahaga itu menyiratkan makna hubungan mereka yg tidak biasa. Mereka bergiat memenuhi gumaman Daud dengan rela meresikokan nyawa (2Sam 23:13-18). Pesona kepemimpinan Daud telah memikat bukan hanya pecundang, namun beberapa pahlawan dari pihak Saul dan bangsa di luar Israel untuk mengabdi pada Daud. Yg paling tragis adalah Uria dari bangsa Het (musuh Israel). Ia begitu menghormati Daud dan meneladani rajanya itu dengan lebih suka menghabiskan masa cuti di kemah tentara (2Sam 11:9-11).

Tinggal di dalam hadirat Tuhan memampukan Daud melewati berbagai tantangan hidup.

Keintiman dengan Tuhan membuatnya sadar bahwa kemenangan sejati ada di pihak Tuhan dan bahwa IA menyediakan cara-strategi-sumber daya-sahabat dalam menggenapi rencanaNya.

Kehidupan Daud yg menghargai rekan kerja seperti mengasihi nyawanya sendiri menyebabkan hal yg sama dilakukan oleh mereka terhadap Daud.

Lesson Learned:

1. Life process filtering (refine) the good side of ourself for both leader & followers.

2. Life process set some preparation before our character & resource capasity be ready to gain the maximum success.

3. Life process will showing what is the true meaning of loyalty trough sacrifices.

Standard
Divine Toughts

​David – Intimacy, the Power of Leadership (1)

Part 1 – Recieve the Calling, a new Life Direction.

Inspirasi tulisan ini datang di pagi hari, saat mandi dan merenungkan apa kunci keberhasilan seorang Daud menjadi raja yang diakui oleh TUHAN dan manusia (1 Sam 13:14; KisPR 13:22; bangsa Israel memakai lambang bintang Daud sampai sekarang).

Khusus si gembala kambing-domba ini, ia mendapat panggilan (dipilih TUHAN) menjadi raja Israel untuk menggantikan Saul, raja pertama Israel (1Sam 8-10). Adapun Saul, secara fisik paling memenuhi syarat menjadi seorang raja (1Sam 10:22-24). Proses hidup Daud untuk menjadi pemimpin bukanlah hal mudah dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Statusnya sebagai buronan negara, pelarian selama lebih dari 1 dekade merupakan persiapan tersendiri sebelum ia siap menerima kemuliaan yang sangat besar. Puncak kejayaan Israel atas tanah Kanaan dicapai olehnya. Melalui hidupnya, bangkit pula banyak pahlawan lain (triwira Daud dan pasukan elit beranggota 30 orang di bawah pimpinan mereka). Raja Daud juga membuat Tabernakel sederhana/Kemah bagi Tabut TUHAN, serta memaklumkan pujian & penyembahan bagiNya, tak putus 24 jam dalam 7 hari di sana (inisiatif pribadi, bukan perintah TUHAN)  setelah ia memerintah penuh atas suku Yehuda dan Israel.

Daud bin Isai adalah gambaran bahwa setiap orang berpotensi untuk menjadi pemimpin. Bayangkan, anak bungsu dari 8 bersaudara dengan tubuh paling kecil dan pekerjaan paling remeh – gembala domba. Kemungkinan ia tidak berasal dari keluarga kaya, berbeda dengan Saul yang memiliki banyak ternak dan seorang bujang (pembantu).

Entah apa yang DIA lihat dari seorang remaja di kota kecil Betlehem yang setiap harinya berkutat dengan 2-3 ekor domba serta gemar bermain kecapi. Kedatangan seorang nabi Samuelpun kurang menarik minatnya, sampai akhirnya ia harus dipanggil datang untuk menerima pengurapan raja (1Sam 16:11-13). Atau mungkin ia tidak terlalu dekat dan diperhitungkan Isai, sang ayah? Ada bagian mazmur (gubahan Daud) yang menyinggung tentang dilupakan orang tuanya, namun itu belum menjadi kepastian dan bukan menjadi halangan di mata TUHAN.

Sebuah kesadaran muncul sejak ia menerima panggilan dan pengurapan. Ya, ia mulai menggali Torah (kitab Musa) dan menaikkan lagu-lagu yang baru (psalm) sehubungan tujuan hidupnya yang besar itu (speak with a different languange according to a new life purpose). Untuk abang-abang Daud, ia tetap dianggap si bungsu penggembala domba (1Sam 17:28-29). Mereka tidak mengakui pengalaman dan pelatihan Daud di padang yang kadang bergelut dengan singa ataupun beruang demi mempertahankan nyawa ‘beberapa teman kesayangannya’ itu (1Sam 17:34-37).

Daud remaja lebih terkenal dengan motorik halus/seni musik. Ia berkesempatan melihat secuil gambaran masa depannya di istana raja karena talenta bermusik rohaninya (1Sam 16:14-23). Hamba raja Saul mengenali Daud lebih daripada ayah dan saudara lelakinya dengan memberikan gambaran (laporan intelijen) yang tepat (1Sam 18:16).

Sampai waktu pertempuran dengan Goliat, hanya hamba Saul dan nabi Samuel yang menyadari keberadaan Daud. Pertempuran dengan Goliat adalah ‘tes naik kelas’ karena lawannya itu besar, memakai jubah pelindung, dan penuh intimidasi – berbeda dengan binatang buas yang jadi lawan-lawannya selama ini. Literatur menggambarkan bahwa Goliat dari Filistin, raksasa itu adalah seorang pendekar yang terbiasa berperang/terlatih/champion (1Sam 17:4, 23).

Daud mengetahui dengan pasti segala resiko menghadapi Goliat, namun sifat berani dan percayanya pada TUHAN telah membuat ia mengajukan diri sebagai satu-satunya relawan yang tampil untuk membela kehormatan bangsanya, sedangkan raja Saul memilih untuk bersembunyi menunggu kabar di kemahya (1 Samuel 17).

Lesson Learned:

1. Receive the Calling.

2. Renew mindset & attitude.

3. Raise with all talents by develop them.

Standard