Daily Experiences, Uncategorized

Love Letter?

Expect the unexpected.

On the first week of this August, a 2nd grade student suddenly gave a stick note with mine & her name written at the back. I keep asking to myself: “why she did that?”, “why it happened?”.

Pure & Sincere, kids are clothed with that to remind us/adults.

I tried to remember what was going on in the past 1 month. Finally I rememberred our morning devotion moment in teacher’s room. That morning was my turn to lead our 10 minutes sharing. The guidence book told a true story about one bad guy that planning to rob a house since he already jobless for months. He came into a house and got supprised because there’s no one in that house but Kary, a little girl. She was welcoming the bad guy and serving him with smile, stories, & playing the piano to sing him songs. At the end of their conversation, the bad guy shock to know that Kary is actually a blind girl. Touched by what Kary had done, that criminal cancel his plan and quickly went out from that house with a shame. Few years later, Kary got operation and healed from her blindness. The doctor who did that once a criminal, he decided to join the medical school after met Kary for paid back the genuine love he had received.

This week we have a case with one of our special needs student. Our principal reply that we need to pray for the kid in whatsapp group. Then Holy Spirit breaking that 2 weeks of silence for answering my questions about the letter.

“What is the different between you as a teacher with others? The world need to see miracle and all will doing in HIS intervention. Christianity is not only a label (trademark) of this school, it’s really exist!”

Love life, spreading the good news.

Now I can see clearly the purpose & the reason of all facilities that I’ve got. Saving souls and opening gate for a chance and a wider perspective about this world to our pupils are the most important thing HE want me to understand. This awareness is already fill the school boarding house (teacher’s residence) but it’s need to become a massive value to all other teachers, staff, leaders, owner, & parents.

For an urgent reason I read news this week about how devil destruc kids around the world trough bullying & sexual insulting. The enemy know, there’s a great potential power laying in kid’s life to change the atmosphere, like what Kary did.

Psalms 8:2 (KJV)

Out of the mouth of babes and sucklings hast thou ordained strength because of thine enemies, that thou mightest still the enemy and the avenger.

Standard
Daily Experiences, Tahukah Anda?, Uncategorized

​Mata Lelaki.

Yang Muda VS Yang Dewasa.

Sore menjelang malam saya dan teman-teman satu kost terlibat perbincangan seputar lelaki, pria dengan fantasinya. Menurut teman-teman saya, lawan jenis kadang menyimpan rapat sebuah hasrat namun beberapa dari mereka tidak pemalu dan mengumbar pesona lewat geliat atau busana tertentu. Pada akhirnya kami sepakat bahwa hal-hal yang tabu baik untuk dibincangkan lewat kerangka berpikir yang sehat. Jika coba dipendam, hal itu akan mencari ‘jalan keluar’ lewat berbagai usaha yang kadang konyol (childish).

Secara pribadi, aspek kehidupan seputar hasrat dan cinta serta beragam sisi yang menyertainya adalah indah, walau dalam beberapa kondisi khusus diperlukan komunikasi terbatas.

Hal menggelitik yang menggulirkan tulisan ini adalah kejadian minggu siang di lantai 4 food court, mall seputar Kuningan. Seorang pria muda baru saja datang. Ia celingak-celinguk, terlihat bingung mencari tempat duduk. Bukannya tidak ramah, adapun saya sedang terlibat pembicaraan serius dan kebetulan hanya kenal sekilas dengannya. Untuk seketika dia sempat berdiri tidak jauh dari meja kami. Sesekali matanya melirik pojokan meja dekat dinding kaca ruangan. Di sana duduk seorang wanita oriental yang mengenakan baju longgar tanpa lengan. Setau saya, pria ini sudah memiliki pasangan, tapi sepertinya sedang lupa memakai ‘kaca mata kuda’ saat sang gadis tidak terlihat dalam area radarnya. Sayapun sekilas memperhatikan wanita muda itu sekitar 20 menit yang lalu. Saat itu saya dan rekan baru memulai pembicaraan serius seputar isu sosial. Wanita muda tadi tiba-tiba datang dan memilih duduk sendirian, tidak jauh dari kami. Ia lantas mojok terlihat sibuk dengan laptopnya.

Setelah perbincangan seputar lelaki malam Rabu, entah mengapa peristiwa 3 minggu lalu terlintas kembali…

Kelemahan dan kekuatan lelaki pertama-tama mungkin memang di matanya. Pria dianugerahi cara berpikir logis lewat apa yang dilihatnya langsung. Namun petaka yang samapun berlaku jika mata tidak dijaga. Untuk tingkat lanjut beberapa pria dianugerahi ‘vision’, kemampuan melihat masa depan dan hal-hal besar.

Alkisah seorang budak di Mesir disuguhi pemandangan indah nyonya dari tuannya, mungkin hampir setiap hari. Pada suatu kesempatan, di ruangan itu hanya ada mereka berdua, tidak ada halangan untuk berbuat bebas. Lagipula sang nyonyalah yang datang untuk menawarkan diri. Hebatnya, sesaat kemudian sang budak memilih untuk kabur. Karena sang nyonya kesal telah ‘ditolak’ permintaannya, si budak difitnah melakukan pelecehan fisik. Kehormatan moral sebenarnya akan terlihat dari sikap dan keputusan di saat yang kritis. Pada banyak cerita hidup hal itu melampaui status sosial, strata pendidikan, dan kekayaan.

Perbincangan kami tentang mentalitas pria dan kesetiaannya memang ambigu. Kaum lelaki dilahirkan alamiah dengan potensi besar untuk menyalurkan hasrat dalam sekejap. Manusia pertama bernama Adam di Taman Eden secara tersirat adalah contoh yang gamblang. Dilihatnya buah di tengah taman itu sedap & tergigit. Ia lantas menghabiskan sisanya tanpa banyak komentar. Saat diminta tanggungjawab oleh Sang Empunya Pohon Buah Terlarang ia lantas melempar kesalahan penuh pada sang penggigit buah pertama.

Mungkin benar seloroh teman akademisi bahwa bahwa kebanyakan Adam dengan matanya itu ‘lambat dewasa’. Ia lupa bahwa semua keindahan yang dilihatnya tidak selamanya mulus terawat (temporary, need handling with care). Semua tindakan fisik menuntut tanggungjawab moral, semua hal fisik ada masa kadaluarsanya juga.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapapun, sayapun bercermin sembari menulisnya. Namun sejujurnya sebagai pria utuh, siapapun lelaki perlu menginsyafi dirinya dalam melewati tahapan jiwa muda untuk kemudian menjadi dewasa. Sebelum kedewasaan itu menjadi penuh maka ia akan dikendalikan oleh mata jasmani yang hakekatnya selalu menuntut pemuasan segera. Muncul kemudian istilah puber kedua dan ketiga sebagai analogi ‘pembenaran’. Tidak heran banyak dari kami yang diam-diam tergelincir jatuh bahkan untuk pribadi yang berhikmat tinggi seperti raja Salomo (Sulaiman) sekalipun.

Standard
Daily Experiences, Sehat Itu Menyenangkan, Tahukah Anda?

Special Needs Kid

A Strange Physical Phenomena Nowadays.

Meet Jack, a 2nd grade student. He often bite his fingers nail. When getting stressed (mad), he’ll pluck his hair (a certain wound spot could see on his head). He’s a special needs kid that strugling with his eye sight (minus) & autism.

Kids are treasures in the future.

I’m living in a boarding house with other teachers and we had a discussion about kids nowadays that wearing minus glassess in a very young age. Few of them also having down syndrom or other special needs cases. Some parents that having special needs kid sending them to school and have big expectation it will solved by teachers. Others even don’t really care to involve by giving them to their nanny (kids assistant).

In some articles (analysis), this sad phenomena happening caused by a genetic factor. Parents that having minus sight more than 5 usually having kids wearing glasses from the age of 3. Autism possibly an impact of chemical or hormonal process. Fastfood industry had bring a huge effect for obesity in developing & modern country.

My crucial point is, a kid like Jack deserve a chance to experience the bright side of this world. But for gain that goal he will going to experience an extra effort, since he is including to the special need group. While people need to evaluate about the way they live, for support a better generation there’s a breaktrough need to be done in our perspective. With parents, physoclogist, mentor/tutor hand in hand supporting kids like Jack since early age, we could see a bright side in the future made by them.

In our first Elementary Chapel, in front those kids Pastor Sammy explained about how we were created in GOD’s image. It’s mean HIS character well established in us. We only need to express them in our daily life. Be kind, obey, & diligent are 3 main examples that relevant for teachers & students. At first I wondered if a kid like Jack could ecperience it.

Eating together at canteen, a lovely view by their sincere.

Infact, Jack is a good student. As long he’s in the good mood, he’ll follow my teaching and doing those task that I’ve given. Luckyly Jack is studying with other kind kids in the class. I told them to share each other and helping Jack in daily activity. Jack also need to learn how to trust his friend when they are coming to help with sincere.

Human were created with heart. As long we gain their trust then everything’s gonna be ok. We were created to be social beside our individualism (uniq). Let us heal each other by get to know better on each other.

Standard
Daily Experiences, Uncategorized

​Panggilan Misi (A Heart of Mission)

A reminder, an alert for those lost (crying) souls.
Minggu pagi yang tidak menyenangkan. Terlambat ibadah gereja karena salah turun di stasiun kereta, bayar ojek online double (deposit dan tunai, error system), dan beberapa pengalaman lainnya. Padahal semuanya hampir sempurna karena berangkat lebih awal dan di awal perjalanan kereta saya sempat lanjutkan Reading Bible Movement (RBM) dari Yosua 2.

Sepanjang sisa perjalanan ke gereja saya mencoba untuk tetap tenang dan memasang muka tebal di saat turun dari ojek G*ab. Khususnya setelah mengetahui bahwa saya telat 1 jam ke gereja dan membayar double untuk tarif ojek.

Anehnya ada anak youth yang datang terlambat juga sebagai teman masuk (bukan pembenaran). Saya sedikit terhibur karena di lift ia bercerita perihal bisnisnya yang sudah berjalan 3 bulan dan menghasilkan omzet stabil 3x lipat dari modal awal.

Selesai percakapan di lift, kami berdua masuk dan berpisah bangku duduk. Saya duduk di baris belakang bersama Frendy, seorang dengan kepribadian baik-lugu-sederhana. Di akhir kotbah, sang pendeta menyinggung Pak BTP yang sedang mengalami ujian hidup. Sempat tertawa kecil dalam hati, karena entah kenapa saya nekat pagi tadi, kangen untuk mengenakan kemeja kotak-kotak ‘ala Basuki-Djarot’. 

Momentum penting pertama datang saat si pengkotbah meminta jemaat saling mendoakan. Frendy membagikan beban doa perihal orangtuanya yang sakit. Jadilah Roh Kudus gerakkan saya membagikan kesaksian pribadi tentang perjuangan pemulihan dari kelumpuhan stroke dan mengingatkan dia cerita di Alkitab tentang iman 4 pengusung (pendamping) orang lumpuh yang membawa si sakit dari atap rumah untuk menerobos masuk agar teman mereka dijamah TUHAN.

Selesai ibadah saya ingin rileks sejenak karena lapar juga (sudah jam maksi). Namun akhirnya waktu langsung bergulir pada momen penting kedua. Saya terlibat perbincangan dengan tamu-tamu dari ujung Timur Indonesia. Mereka bertanya tentang kerinduan saya untuk ‘melayani’ di ladang misi. Singkat cerita perbincangan serius sembari makan siang akan jadi ingat-ingatan penting. Akhirnya kami makan bertiga dan saya menyimak dengan serius kesaksian mereka saat dulu pergi ke ladang misi dalam kondisi yang tidak ideal. Saat ini mereka telah mengalami terobosan dalam iman dan kehidupan jasmani (ekonomi). Mereka menggarisbawahi pentingnya agar orang misi tinggal minimal 1 tahun untuk menghasilkan buah yang tetap karena lebih efektif daripada trip-mission (berkunjung misi sesekali tanpa tinggal dalam kurun waktu tertentu.

Seandainya semua bisa berjalan sederhana, pikir saya. KehendakNya diketahui dengan mendapat ‘tanda/konfirmasi’ seperti kisah abang Tampubolon. Lain halnya dengan kisah bang Sitorus yang diangkat lebih tinggi, kepergiannya tidak diawali dengan tanda/penyataan ilahi, ia pergi berdasarkan panggilan hati. Memang karunia iman menyertai mereka yang mau mengabdi 100% di ladang misi. Tidak adil jika keberhasilan pelayanan hanya diukur dari tingkat kesejahteraan hamba-hambaNya saja. Semua tetap melihat hasil nyata dari banyaknya hidup yang terdampak, diubahkan (breaktrough). Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit kisah hidup hamba Tuhan yang menggemukkan dirinya sendiri tanpa benar-benar peduli (berbelas kasihan) pada jemaat yang dilayani (Yehezkiel 34).

Kondisi adik-adik di ujung timur sangat memprihatinkan secara edukasi, mental, dan rohani. Saya hanya menjawab kedua abang tadi bahwa selepas pulih 120% niat hati sangat ingin melayani di sana. Saya sampaikan bahwa minggu ini sedang mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan yang baru di sekolah internasional di Jakarta.

Sepanjang sabtu kemarin saya mendapatkan refresh tak terduga oleh sepupu di BSD perihal ilmu mengajar anak SD internasional dan melihat beberapa materi pendukung yang diperlukan. Keluarga kami sedang dibawa perlahan beradaptasi dengan pola pergaulan ‘global citizen’ lewat mereka. Dari paparan sepupu kami itu, saya mengerti betapa banyak warga Indonesia yang tidak siap untuk menghadapi persaingan global bahkan untuk mereka yang bertitel S2 atau S3 sekalipun. Miris sekali, selain lapangan pekerjaan yang semakin tergerus bayangkan juga nasib mereka yang tanahnya telah terjual di sepanjang nusantara. Mereka dijajah secara ekonomi baik oleh bangsanya sendiri ataupun pihak luar.

Momen penting ketiga. Di perjalanan pulang dari gereja, terbaca tulisan (update status FB) pembimbing saya di Australia yang mengutip Roma 15:1-2.

“Strength is to service not for status”

Saya meyakini kepemimpinan sejati itu berbicara tentang fungsi lebih daripada jabatan. Oleh karena itu dari dulu di gereja saya biasanya memilih pelayanan yang kurang personil dan kurang diperhatikan, termasuk untuk pilihan anak PA ataupun rekan berbincang di gereja (kumpulan teman yang kurang potensi jadi fokus perhatian).

Ah, andaikan Engkau berbicara langsung untuk gundah hati membayangkan adik-adik remaja dan pemuda di ujung imur sana BAPA. Terlalu banyak ‘puzzle peristiwa’ yang harus dirangkai untuk ditelaah. I really need Your wisdom DAD.

Semester ke-2 tahun 2017 ini harus ada terobosan besar selama tinggal di Jakarta Barat kalau memang diperlukan tambahan waktu sebelum menjejakkan kaki nun jauh di sana, itu saja yang terbersit untuk saat ini!

Possesing the Land (Exodus 23:29-30), to be continue..

Standard
Divine Toughts, Tahukah Anda?

Overcomer

Grateful with imperfect condition is the true meaning of Perfection.

“I was in the deepest pit of my life but Jesus lifted me out.” – Mandisa.

If you are in need of renewed purpose and a sense of worth, watch Madisa’s incredible testimony and be encouraged that we serve a God who wants to give you those very things. 

Read more: http://share.cbn.com/5pmr6

Standard
Divine Toughts, Uncategorized

Visi Hidup

Now or never, no guts no glory.

Seorang teman wanita pernah bertanya pada saya di awal tahun 2016: “Bang, apa visi hidupmu bang?” Saat itu saya tidak siap menjawabnya karena memang tidak memiliki jawaban yang pasti.

Berjalan dengan waktu saya bergaul dengan dia karena tergugah dengan gayanya yang ceplas-ceplos dan sederhana. Namun hal paling penting yang saya alami adalah, lewat dia saya seperti diajak merenung agar kembali berjalan ‘on the track’.

Leading with Example

Tahun 2016 bukanlah masa yang indah, setidaknya bagi orang luar yang melihat perjalanan hidup saya. Di tahun itu saya putuskan berhenti dari pekerjaan kantor dan hobi olah raga basket demi fokus pada latihan rutin rohani dan jasmani demi mempercepat program pemulihan pasca stroke (lumpuh separuh badan bagian kiri). Di pertengahan tahun 2016 saya mulai menjual kue bersama keluarga di depan sekolah SD swasta di dekat rumah. Sepanjang tahun 2016 sayapun belajar menghargai setiap waktu yang berjalan dan apa arti kesabaran. Ada kegagalan lain yang sempat menyesakkan tapi pada akhirnya saya belajar apa arti sukses yang sejati dalam makna yang lebih luas.
Kembali pada pertanyaan visi hidup, saya teringat di suatu malam pada akhir 2016 atau awal 2017. Malam itu saya berkhayal tentang bagaimana rasanya jadi seorang guru SD dan terlihat awet muda di antara mimik murid-murid yang unyu dan lucu itu. Selama 1 semester berjualan dan berteman dengan anak-anak SD pelanggan kuliner kami, saya mendapati ada beberapa anak yang cerdas dibalik tingkah polah konyol dan banyolan mereka. Namun sebagian besar dari mereka tidak menyadari potensi tersebut. Arti sebuah cita-cita tidak mereka miliki, menyedihkan.

Beberapa siswa-siswi SD tiranus yang pelanggan setia, teman bernyanyi, bercanda, dan selfie.


Roda hidup berputar cepat dan visi hidup menjadi pengusaha menelusup perlahan tapi pasti. Saya termotivasi untuk memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik sambil menyumbang pada sesama dan sekitar. Tujuan yang mulia, mencapaiya juga tidak mudah dengan kondisi fisik yang belum ideal 120%.

Tahun 2017 dimulai dengan sangat lambat sampai akhirnya awal Maret (1 tahun setelah resign dari kantor) saya mendapatkan pekerjaan. Dibarengi dengan merintis bisnis sendiri, perlahan tapi pasti fisikpun semakin kuat karena latihan rutin di pagi hari. Sempat tercetus 1 kali untuk meminta pekerjaan yang baru di dalam Mezbah Keluarga kami, tapi hal itupun terlupa seiring berjalannya waktu.

Pembacaan Alkitab rutin harianlah yang membuat saya tetap waras. Hal itu dilakukan sejak tahun 2013 ketika ‘anak yang hilang’ sedang mencari jalan untuk pulang. Tibalah Juni 2017 yang merupakan titik naik dalam kehidupan saya. Jawaban dari doa yang terlupakan dan produk bisnis yang lebih visible akhirnya muncul. Juni akhir 2017 saya diterima sebagai guru SD melalui proses yang awalnya kurang antusias untuk diikuti. Bahkan saat ditawari untuk tinggal di mess (wisma) sekolah dan mereka tidak menawar turun gaji yang diminta sempat membuat saya tercengang.

Entahlah, begitu banyak rencana disiapkan saat pintu-pintu ini sedang dibuka. Namun satu hal yang saya percaya, DIA peduli untuk siapapun orang yang mau belajar menghidupi sebuah visi. Seperti anak panah yang harus ditarik ke belakang sebelum ia melesat, harapan saya sampai tahun 2017 berakhir adalah dapat memberikan dasar pengajaran yang kuat di sekolah serta melaksanakan tata kelola usaha yang lebih rapih. Sambil berjalan semakin kuat, saya yakin IA akan menunjukkan parter yang tepat dalam menghidupi visi hidup bersama.

Adalah dilema memang saat kita berusaha mencapai visi, waktu terasa berlalu cepat apalagi di saat yang sama sumber daya yang tersedia hampir habis. Yang saya tahu, secara pribadi bidang pendidikan dan misi begitu kuat memanggil saya.

Standard
Daily Experiences, Resensi Film-film Inspiratif

​SINGLE by Raditya Dika.

Happiness has a lot of form, be smart & keep fun.

Liburan.. selain jalan², bermalas ria, beberes kamar atau rumah, olah raga, dan karaoke, maka menonton film sangat menyenangkan untuk dilakukan. Gak banyak film Indonesia yang ok menurut saya karena alur ceritanya sebagian besar mudah ditebak.

Film SINGLE oleh Raditya Dika menyelipkan beberapa insight. Apa arti seorang single dan bagaimana usahanya dalam menggapai cinta. Pentingnya kejujuran sebagai nilai hidup utama yang kadang terlupakan sangat kental tersirat sejak awal hingga akhir adegan.

Funny things teach us to smile

Sudah jamak bahwa cinta modern mengajarkan peran tebalnya kosmetik demi ‘kesan sempurna’ sebagai cara terbaik menggapai cinta. Film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan langgeng penggiat cinta adalah saat ia jujur dengan hidupnya selama proses pencarian cinta.

Tetap dengan akal sehat, kebahagiaan adalah saat cinta tidak mengekangnya menjadi pribadi yg terbaik dalam kapasitas dan panggilan mereka masing².

Film ini berisi kelucuan aksi teman² Ebi yang coba membantunya meluluhkan hati Angel, seorang gadis mandiri dengan jiwa sosial yang tinggi. Film ini juga menentramkan dengan mengedepankan kebaikan dan ketulusan sebagai pesona terbaik dari Ebi. Tidak banyak rayuan dan adegan gombal, karena hidup ini memang sudah indah dari sananya.

Happy movie time guys!

Standard