About Me

Panggil aku Pman..

 

Saya adalah sulung dari 4 bersaudara. Lahir di keluarga sederhana sebagai anak lelaki satu-satunya di dalam didikan patrilineal telah menempa diri sedemikian rupa untuk terus berjalan sambil menatap ke depan.

Keingintahuan saya seputar hal-hal baru mulai muncul saat usia beranjak remaja, tepatnya pada masa akhir smp. Pribadi yang tadinya hidup sebagai anak rumahan dan dari kecil adem-ayem sebagai siswa SDN Malaka 03 pagi dan SMPN 199 di seputaran Pondok Kopi yang diidamkan ternyata menyimpan hasrat yang kuat untuk melihat sisi lain kehidupan di luaran sana. Maklumlah, kalau kemanapun saat itu tidak pernah ingat rute jalan karena jarang sekali diijinkan berpergian jauh oleh ortu.

Rasa ingin tahu dan berpetualang semakin kuat, khususnya setelah pengalaman pribadi dalam komunitas kecil PA sewaktu memasuki bangku kelas 1 sma. Mempunyai mentor yang memiliki pengalaman hidup beragam telah membuka imajinasi saya tentang apa artinya berjuang hidup sambil belajar memberi hati untuk pelayanan. Ia juga sharing tentang perjalanannya ke desa-desa dan kota-kota lain di Nusantara (mission trip). Di waktu-waktu kemudian kami menyempatkan diri untuk mission trip ke beberapa desa terpencil di Lampung Utara dan ‘just trip’ ke kota Semarang untuk wisata kuliner.

Semenjak mengenal gaya hidup yang baru, yaitu berbagi dalam komunitas, sayapun mulai berani melangkah untuk hal-hal baru yang tidak terbayangkan oleh saya saat masih kecil dahulu. Hal ini terjadi seiring dengan kepercayaan diri yang meningkat berkat dukungan saudara-saudara teman PA dan mentor (si Berats).

Perubahan diri yang drastis dimulai dengan ‘lolosnya’ saya menjadi Ketua 1 OSIS di sma favorit jakarta timur berkat dukungan penuh teman-teman sekelas (GForce). Mereka melakukan kampanye kreatif seperti fotocopi poster bertuliskan: “It’s not a bird – it’s not a plane – it’s poniman!”, membagikan permen kojek, pendekatan dengan teman-teman sekolah baik kakak ataupun adik kelas, serta kegiatan lainnya tanpa sepengetahuan saya. Semua itu adalah murni hasil swadaya GForce kurang dari seminggu sebelum momentum orasi kampanye Pemilos (pemilihan OSIS). Secara tulus, mereka percaya dan bangga kalau rekan sekelas mereka yang pendiam itu akan lancung ke ujian, padahal mereka juga tahu bahwa saya itu petal lidah dan semenjak sd belum pernah satu kalipun memimpin jadi ketua kelas. Sampai sekarang tali silaturahmi dengan teman-teman sd, smp, dan sma masih terjalin dengan sangat baik. Thanks to technology & medsos! 🙂

Petualangan hidup berlanjut di bangku kuliah diploma Universitas Gunadarma, Depok. Di sanalah teman-teman kuliah mulai memanggilku dengan sebutan Pman, khususnya mereka yang mahasiswi. Awalnya sih risih, tapi setelah menonton di tivi tokoh kartun konyol yang senang membantu itu, akhirnya sayapun mulai terbiasa dan menerimanya. Adapun mengingat sejarah ‘nickname’ itu kadang membuat saya tersenyum untuk sekejap waktu :D. Di masa itu diri ini mulai bepergian 1 – 2 x sebulan untuk sebuah tugas pelayanan ke sebuah desa kecamatan di bagian selatan pulau Sumatera. Masih sebagai anak rumahan yang semasa sma baru mulai mengenal jalanan jakarta, keadaan memaksa saya untuk lebih sering bepergian sendiri lintas propinsi di tengah malam buta di saat yang lain sudah tertidur pulas. Pergi Kamis/Jumat malam untuk segera sampai di Jakarta di hari Minggu/Senin subuh demi mengejar tugas minggu ataupun langsung berangkat kuliah akhirnya jadi kebiasaan untuk hampir 2 tahun. Kadang rasa bingung ataupun kuatir menerpa di seputar perjalanan pergi-pulang, namun itu semua ditampik karena bergembira dengan banyak hal baru yang saya temui di sepanjang jalan. Diri ini akhirnya melihat secuplik Indonesia di belahan yang lainnya. Yup, pemandangannya memang hanya desa biasa dan warga biasa. Tapi itu menyadarkan saya bahwa pembangunan di negri ini tidaklah merata. Sebagai catatan, emenjak dari sd, smp, sma, dan kuliah saya biasanya adalah yang termuda dalam kegiatan apapun tapi banyak dari teman-teman sejawat yang tidak menyadarinya.

Waktu bergulir cepat setelah menyelesaikan sarjana muda. Untuk kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan sebagai Marketing AlKes (Dispossible Division) pada principal BBRAUN di Jakarta yang kemudian dipercaya untuk menangani area Bogor-Sukabumi-Cianjur. Setelah itu saya memutuskan untuk terjun bekerja sebagai pendidik selama hampir 7 tahun. Pada tahun ke-3, di tengah keterbatasan dan kesibukan mengajar saya melanjutkan kuliah jurusan Sistem Informasi untuk akhirnya jadi Sarjana yang pertama dari garis keturunan keluarga besar Bapak. Menjadi guru bukanlah bagian dari rencana hidup pada awalnya. Tetapi hal pembentukan katakter dan paradigma baru yang didapat selama mengajar telah memperkaya sisi psikologis saya. Pendidikan itu nyatanya begitu penting dan pada akhirnya saya mengerti hal berikutnya betapa kita sebagai bangsa telah mengalami kemerosotan moral karena lalai membangun sumber daya manusia Indonesia dalam hal yang satu ini.

Beralih dari hidup sebagai pendidik, saya kemudian melanjutkan pekerjaan yang berhubungan dengan jurusan kuliah saya dahulu di BKDI/ICH. Walau sekarang sudah tidak mengajar di sekolah formal, tapi saya memutuskan untuk tetap mempertajam diri dalam hal mengajar lewat wadah yang lain, yaitu Youth GKKD Jakarta dan PAKARS Indonesia.

Divine Purpose Driven Life

Divine Purpose Driven Life

Pada suatu malam, seorang teman dekat di awal tahun 2016 mengusik saya dengan celotehan terbukanya via chat WA perihal kegiatan menulis yang kerap saya lakukan di waktu senggang melalui medsos ‘kekinian’ Zukernberg. Sejak hari itu, sejujurnya ada asa yang muncul perihal passion untuk berbagi lewat tulisan. “Good news is worth to share” katanya.

Menjadi pusat perhatian bukanlah sifat dasar saya, Itu sebabnya akan sangat sulit menemukan dokumentasi selfie sebelum tahun 2012 dan saya bergembira jika teman atau adik-adik saya bisa maju di depan meraih kesuksesannya. Di sisi lain, keinginan untuk berbagi dalam komunitas telah membentuk karakter saya. Hal itu kadang menuntut diri ini tampil demi memberikan contoh serta motivasi bagi yang lainnya. Di waktu luang jika ingin belajar banyak biasanya saya akan menghabiskan waktu untuk menonton film-film atau video-video inspirasi, diskusi dengan siapapun, atau sekedar browsing artikel-artikel di dunia maya untuk mendapatkan perspektif logis. Namun jika ingin refresh, maka olah raga basket, makan bareng teman, karaoke family, ataupun moment of worship menjadi pilihan yang diambil.

Be inspired to inspiring others, selalu terngiang di batin ini. Oleh sebab itu saya berusaha untuk tetap menyediakan waktu khusus setiap hari bertemu dengan DIA yang telah menjamah kehidupan semasa sma dulu.

Momentum hidup terbaik bagi saya adalah saat bisa menyemangati serta membahagiakan orang-orang yang disayangi sambil terus terkoneksi dengan Sumber Sukacita yang Sejati itu.

Jadi sekarang, it’s me dear friends. Mulailah diri ini berselancar lebih deras untuk sekedar berbagi rasa yang semoga bisa menjadi inspirasi, refleksi, ataupun ‘moodbooster’ bagi hidup fana yang lebih bernilai.

Lahir dan hidup di Indonesia ini adalah anugerah yang luar biasa. Dan semoga sampai hari-hari laju ke depan, saya masih sempat menyusuri tiap sudut pelosoknya bersama dengan berbagai cerita hidup, cinta, dan perjuangan yang mungkin sesekali tersaji ringan di sini lewat kumpulan aksara yang terangkum sederhana.

Salam Terobosan!

PmanPo, 2016-4-8 (edited, 2016-4-14)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s