Daily Experiences, Divine Toughts

A Living Sacrifice

​Unlimited Training Day

Malam tanggal 28 Desember 2016 saya terbangun. Setelah menimbang apakah lanjut dengan sosmed, diputuskanlah untuk meneruskan pembacaan Alkitab sehari-hari yang memasuki bagian Lukas 18.

Lewat internet, saya temukan perspektif lain dari Matius 20 & Markus 10 (nats paralel). Bartimeus, seorang dari 2 orang buta yang meminta kesembuhan memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh (extra mile). Ia berteriak semakin nyaring memanggil/memohon pada Sang Tabib Ajaib (Juru Selamat) sewaktu orang banyak di sekelilingnya menghardik (tidak mendukung, menghalangi niatnya).

Di malam sebelumnya saya menonton film yang menceritakan seorang yang sedang diuji imannya (God’s not Death 2). Dari seluruh adegan, ilustrasi Sang Guru yang seakan terdiam – menantikan muridNya yang sedang diuji untuk lulus telah meninggalkan kesan mendalam. Penantian kesembuhan total (120%) dari stroke 30 Desember 2014 sedang saya jalani. Dokter dan terapis menyatakan bahwa kondisi fisik 90an % normal. Saat ini yang tersisa adalah bekas stroke dan saya perlu tekun berlatih, unlimited training day 😀 untuk pemulihan total.

Di awal Desember 2016, flash back peristiwa stroke telah menjadi perenungan pribadi. Kesan di hati yang kemudian terangkum di wall FB perihal peristiwa tersebut adalah: “Ini bukanlah sebuah akhir, ini adalah suatu permulaan!” Ya, jawaban doa unik telah saya terima melalui stroke yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak kanan – kelumpuhan separuh tubuh bagian kiri selama 20 hari. Sejak peristiwa itu perspektif hidup, pola hidup, cara melihat orang lain, dan hal yang lainnya berubah. Api yang sebelumnya timbul tenggelam terus dikobarkan saat belajar lagi tentang arti “Paket Lengkap” Kasih Karunia selama 2 tahun belakangan (2 Korintus 12:9). Jawaban doa ternyata lebih dahulu merubah (membentuk) sikap hati yang meminta agar siap menerima jawaban yang DIA berikan.

Pada bacaan PB sebelumnya (Matius, Markus, sampai Lukas 17) seringkali TUHAN meminta mereka yang disembuhkan agar kembali pada lingkungannya, berbeda dengan Bartimeus yang langsung mengikut DIA menjadi murid. Ada resiko besar (taruhan nyawa) telah dilewati olehnya, ketika gelar anak Daud diserukan di depan umum sehingga orang banyak menegornya untuk diam (jika dianggap lancang atau menghujat Allah, seorang dibawa ke Majelis Agama agar disidang lalu dihukum atau dilempari batu). Note:  Israel sedang menantikan Mesias yang berasal dari keturunan Daud. Yesus sebagai anak sulung dari tukang kayu, secara kasat mata bukanlah kandidat ideal menurut pandangan umum untuk disebut Mesias (pembawa kejayaan Israel). Namun untuk Bartimeus, iman di dalam hatinya telah bulat sehingga akhirnya Tuhan tidak punya pilihan selain menyimpangkan rutenya, menanyakan dengan lembut apa kerinduan Bartimeus karena sejatinya IA digerakkan oleh belas kasihan dan iman.

Kisah Bartimeus menjadi pelajaran bahwa tanpa disadari tes di hadapan umum sedang berjalan (sang Guru berharap saya lulus – semua janji, hikmat, dan Penolong/Roh Kudus tersedia). Untuk seketika Ayub 42:2, 5 yang adalah rhema saat melewati pemulihan fisik di tahun pertama terngiang kembali. Biarlah segala pujian hanya bagi DIA, sebagai kesaksian yg hidup, korban yg berkenan dan harum di hadapanNya.. sekaligus memotivasi teman-teman lainnya sewaktu menjalani tes kehidupan dalam bentuk apapun saat membaca tulisan ini.

Lukas 18:43 (TB) Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Advertisements
Standard
Daily Experiences

Kepompong 2016

Brother’s Keeper.

Pertemanan kami dimulai sejak remaja, tergabung lewat bimbingan rohani (pemuridan) SMAN 81 Jakarta Timur di bilangan Kalimalang yg kini dikenal dgn statusnya sebagai sma unggulan se-Jakarta. Banyak tahun kami lewati. Berbagai kondisi senang dan sulit bersama-sama, melihat perkembangan jasmani dan rohani satu sama lain secara seksama – saling mengingatkan dan saling menjagai.

Sabtu lewat tengah malam (17-12-2016) kami habiskan waktu evaluasi kehidupan selama 2016. Tidak seperti biasanya, makan bersama bukan menjadi yg utama pada pertemuan kali ini.

Mendoakan satu sama lain itu menu spesial kami di akhir tahun.
Terima kasih untuk Persahabatan bagai kepompong sampai tahun 2016 ini. Saya sebagai yg termuda dalam grup si Berats sangat terkesan.

kiri ke kanan: Mario, Roberto, Unggul, saya/Pman

Standard