Divine Toughts

Ketika IA bernyanyi dengan (lewat) CiptaanNYA

Nyayian Baru/Psalms sebuah Senjata Perang.

Mazmur 40:3, 10 (TB)
(40-4) Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.
(40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Banyak yang belum menyadari bagaimana proses sebuah lagu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia secara individu dan kolektif. Kenyataan ini berlaku dlm segala aspek rohani & sekuler. Karena dalam kehidupan manusia musik adalah bahasa universal.

Raja Daud dengan kemampuan perangnya telah membiasakan diri menaikkan mazmur kemungkinan sejak usia remaja. Itulah salah satu penyaluran emosinya, langsung pada TUHAN mengingat di padang gembalaan hanya ada hewan ternak, binatang liar, dan alam sekitar yg menjadi teman ‘curhat’ sehari-harinya.Ayah dan saudara-saudaranya sibuk dan tidak terlalu dekat dengan si bungsu ini.

Bandingkan dengan kehidupan sekarang ini yang aktifitas hariannya sering terbagi oleh berbagai media dan internet (pengalihan fokus) bahkan di tengah malam dan pagi yang buta sekalipun.

Secuplik pengalaman Daud remaja yang memilih untuk menggubah Taurat dalam noktah aksara yang dikombinasi dengan noktah harmoni telah memunculkan seorang pribadi yang tangguh, penuh hadirat/pengurapan, sekaligus intim dengan DIA.

Di dalam sejarah zaman raja Daud, ia menyalurkan (sharing karunia) itu kepada mereka yang bertugas melayani di dalam shift untuk 24 jam x 7 hari menaikkan pujian dalam formasi keliling 4 penjuru mata angin di sekitar Tabernakel/tenda Daud yang sederhana dimana di dalamnya berisi Tabut (lambang kehadiran Allah).

Ya, berawal dari sebuah kesederhanaan dari pribadi yang senang memuji akhirnya generasi emas Israel tercapai saat itu. Masa Salomo praktis lebih banyak masa tenang, mengelola dengan hikmat hasil perang yang telah dikerjakan oleh bapanya, raja Daud.

Sebuah lagu kebangsaan akan menggugah dan menggerakkan nasionalisme suatu bangsa. Jika ditelisik dan mengenal lebih dalam sejarah lagu itu terbentuk maka kita akan melihatnya sebagai kristalisasi dari kerinduan (cita-cita) dan citra sebuah bangsa. Itulah yang menyebabkan sebuah lagu nasional dampaknya akan mampu menjadi magnet bagi komunitas sebesar itu.

Demikian halnya dengan nyanyian yang diinspirasi oleh Roh Kudus.

Anda pasti familiar dgn lagu-lagu seperti Amazing Grace dan Shout to the Lord. Saya pernah menonton film berjudul Amazing Grace dan di sana mengisahkan tentang masa perdagangan budak yang tidak manusiawi. Lalu-lintas pengiriman budak dilakukan dengan menggunakan kapal laut. Perjalanan yang ditempuh jauh dan memakan waktu lama. Para budak yang disusun, diikat rantai bak binatang mengalami penderitaan yang di luar perikemanusiaan. Derajat mereka turun jadi sama dengan komoditas/barang, sehingga kalau sakit ataupun mati tinggal dilemparkan saja ke laut.

Sang kapten kapal akhirnya menyadari betapa betapa besar dosanya secara pribadi serta jahat (brengsek) tindakan yang telah ia lakukan pada manusia/ciptaan lainnya. Jd pesan kesadaran manusia yg menyadari kejatuhan dalam dosa dan kejahatan tertuang dlm lagu Amazing Grace. Dan itu dipakaiNya untuk menghantar jutaan petobat masuk dalam kerajaan TUHAN.

Sedangkan lagu Shout to the Lord tersebut lahir lewat seorang pemimpin pujian wanita yang sedang merintis Hillsong Ministry. Kerinduannya adalah agar nama TUHAN ditinggikan atas bangsa-bangsa. Agak ‘lebay’ mungkin tapi saya melihat bahwa lagu ini punya efek yang melintasi bangsa-bangsa (banyak versi terjemahan) dan begitu dasyat serta menggetarkan saat dinyanyikan secara pribadi ataupun dalam jemaah TUHAN.

Memang tidak semua individu mempunyai karunia yang tajam dalam pujian dan penyembahan. Namun bersenandung lagu bebas yang dilakukan sebagai ekspresi lepas entah lewat siulan, gumam nada dengan lirik ataupun tanpa lirik dapat menjadi kebiasaan yang membangkitkan roh. Lagipula apa yang tidak akan berubah untuk dilakukan manusia di bumi dan di surga adalah menaikkan pujian dan penyembahan. Jadi latihlah diri kita selama ada di bumi agar nantinya kita tidak menjadi ‘asing’ ataupun kaget dengan suasana surga di kemudian hari.

Lift HIM up your songs with full heart (enthusias) from now on!

Pman, 2016-04-28

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s